Masyarakat Provinsi Bengkulu dihimbau untuk terus mengikuti aturan cegah penularan Virus Corona/Covid-19, mengingat saat ini penyebaran kasus terkonformasi Corona/kasus positif di Provinsi Bengkulu menunjukkan peningkatan.

Saat ini jumlah kasus positif Corona pertanggal 13 Mei telah mencapai 40 kasus, sedangkan untuk kasus PDP berjumlah 33 kasus dan ODP mencapai 716 kasus.

Sekretaris BPBD Provinsi Bengkulu sekaligus anggota Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Provinsi Bengkulu Edi Susanto B, S.Sos, MM mengimbau agar masyarakat untuk tidak meremehkan penyebaran Covid-19 di Provinsi Bengkulu yang terus menunjukkan peningkatan.

Edi mengungkapkan data pasien Covid-19 di Bengkulu telah menjalar ke semua daerah. Dari 1 Kota dan 9 Kabupaten tersisa dua daerah saja yang masih hijau yakni Kabupaten Rejang Lebong dan Lebong.

Peningakatan signifikan kasus Positif Corona pada 9 Mei 2020 menunjukan peningaktan signifikan dengan penambhan Kasus Positif bertambah sebanyak 23 orang yang sebagian kasus tanpa gejala, Hingga total positif Covid-19 di Bengkulu menjadi 37 orang. Kemudian kembali bertambah pada 12 Mei sebanyak 3 kasus positif hingga total orang yang terkonfirmasi Positif Corona di Provinsi Bengkulu mencapai 40 kasus.

Untuk diketahui Kementerian Kesehatan telah menetapkan status Bengkulu sebagai transmisi lokal Covid-19, yakni penyebaran virus ini sudah terjadi antar penduduk lokal, bukan lagi karena kontak dengan orang dari luar daerah atau berpergian ke zona merah.

“Seberapa siap Bengkulu menghadapi perang terhadap pandemi Covid-19? Disaat daerah lain mulai menunjukkan penurunan kurva penularan kita justru baru mulai mengalami peningkatan. Status transmisi lokal inilah menunjukkan tanda kita harus waspada,” ungkap Edi.

Untuk diketahui tes SWAB membutuhkan waktu berhari-hari. Dikirim terlebih dahulu ke Palembang. “Bisa dibayangkan, kalau seandainya hasil tes ini baru keluar beberapa hari dan ternyata hasilnya positif. Sementara orang dites tadi sudah “melalar” kemana-mana. Berbelanja ke warung, pasar, beli cendol dan gorengan. Berapa banyak orang yang sudah kontak dengan yang bersangkutan. Dan orang yang kontak tersebut sangat berpotensi tertular,” tegas Edi.

Ada beberapa catatan yang harus diketahui oleh masyarakat Bengkulu Pertama, Provinsi Bengkulu terdiri 9 Kabupaten dan 1 Kota, dengan jumlah penduduk total mencapai 1,99 juta jiwa.
Berdasarkan jumlah Rumah Sakit yang dijadikan Rujukan dari Kementerian Kesehatan sebagai Rumah Sakit yang siap menangani pasien Covid-19 hanya 3 Rumah Sakit yakni RSUD Dr.M.Yunus di Kota Bengkulu, RSUD Arga Makmur di Bengkulu Utara dan RSUD Hasanuddin Damrah Manna, Bengkulu Selatan.

Kedua, ketersediaan tim medis yang menjadi pasukan kemanusiaan yang garda terdepan dalam penanganan Covid19 baik Dokter dan Tenaga Medis di Bengkulu masih sangat minim, terutama Dokter spesialis masalah pernafasan.

Untuk diketahui merujuk data Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu jumlah Dokter Spesialis sebanyak 169 orang yang tersebar di Rumah Sakit se-Provinsi Bengkulu. Ini adalah jumlah dokter berbagai disiplin ilmu spesialis, bukan hanya spesialis pernafasan saja. Sementara jumlah Dokter Umum se-Provinsi Bengkulu sebanyak 1.017 orang yang tersebar di Puskemas 731 orang dan Rumah Sakit 286 orang. (sumber: BPS, Provinsi Bengkulu Dalam Angka 2020).

Yang membuat miris, dari sejumlah Dokter dan tenaga medis yang ada, ternyata sebagian besar saat ini sedang menjalani isolasi karena diduga pernah melakukan kontak dengan pasien Covid-19.

Terdapat 59 orang Dokter Spesialis, Perawat dan Petugas lainnya dari RSUD M.Yunus yang diisolasi. Sebanyak 50 orang Dokter, Perawat, staf Adm dan Kurir RSUD Arga Makmur yang diisolasi. Ada 46 Dokter, Perawat, CS RSUD Curup, Rejang Lebong yang diisolasi.

Ketiga, kesadaran masyarakat yang masih rendah terhadap kesehatan. Untuk penyakit umum saja, se-Provinsi Bengkulu sebanyak 38,79 persen masyarakat yang mempunyai keluhan, tidak mau berobat dengan alasan “merasa tidak perlu”. (sumber: BPS, Provinsi Bengkulu Dalam Angka 2020).
Tentu ini menjadi PR bersama, membangun kesadaran agar masyarakat peduli dengan kesehatannya.

“Nah bagaimana dengan Covid-19? Apakah masyarakat sudah mempunyai kesadaran tinggi untuk memeriksakan kesehatannya atau paling tidak, jujur terhadap kesehatannya, jujur pada tenaga medis akan jejak riwayat perjalanannya?” ungkap Edi.

Keempat, di Bengkulu ada 243 ribu orang pada tahun 2019 atau sekitar 12,21 persen penduduk lansia (umur 60-80 tahun lebih). Ternyata untuk memenuhi kebutuhan hidupnya para lansia ini masih berjuang, bekerja. Ada sekitar 54,60 persen yang masih bekerja atau dengan kata lain 1 dari 2 lansia masih bekerja diusia tuanya. (sumber: BPS, Sakernas, Statistik Penduduk Lanjut Usia Prov.Bengkulu 2019).

Covid-19 menyerang siapa saja, tanpa memandang jabatan, kedudukan bahkan usia. Tua dan muda berpotensi tertular. Namun berdasarkan beberapa literatur, orang tua lebih rentan diserang Covid-19. Sebanyk 243 ribu penduduk Bengkulu berusia lanjut dan mirisnya sebagian besar masih bekerja, tentu harus menjadi perhatian bersama.

“Bukan bermaksud membuat cemas, namun ini sebagai early waring agar kita lebih siap melawan Covid-19. Mulai sekarang, marilah kita semua tanpa terkecuali, Disiplinlah, taatilah aturan yang dianjurkan pemerintah Pakailah masker dan sering cuci tangan, Hindarilah keluyuran, jangan keluar rumah kecuali dengan sangat terpaksa” imbau Edi.